Saturday, March 04, 2006

Bali Will Not Go Quietly

One of the most powerful men in Bali, Satria Naradha (left), stressed that Bali would not betray the republic by seceding from Indonesia. Instead, Bali would fight till the end any group that was trying to transformed the nation into a monolithic society based on certain religious belief.

"If Jakarta and Aceh want to betray the republic (by supressing religious freedom and multiculturalism) then we will let them go (from the republic). Bali will not go away, we will fight to keep this nation as a nation that respect religious freedom and celebrate multiculturalism," he said.

'My ancestors sacrifice their lives to build this republic. I and my fellow Balinese will not let this sacred heritage being ruined by a small group of people who want to impose their moral values on this nation," he added.

The owner of the influential Bali Post and BaliTV, stated that on Saturday before the members of the House of Representatives' Special Committee on Anti Pornography Bill led by Chairunissa(right, previously we mis-quoted her name as Yoyoh Yusroh, we sincerely apologized for the mistake). The committee visited Satria at his company's sprawling headquarter in west Denpasar.

"Bali may be as small as a bird, but as you know, bird flu can kill a strong man, " he warned.

Chairunissa, apparently stunned by Satria's point blank warning, could only nodded in apprehension.

Satria closed the meeting by presenting the committee with a special gift; two pieces of the Indonesia national flags.

"May these flags will always remind you on what does this republic really stand for," he said.

19 Comments:

At 10:04 PM, Blogger IndCoup said...

This comment has been removed by the author.

 
At 12:59 AM, Anonymous Jesse Grayman said...

I have not heard anything about Aceh's role in the formulation of this law. I'm not yet convinced that the Acehnese people or Acehnese politicians or Acehnese religious scholars are deeply involved in something that seems to be more like a project of conservatives in Jakarta. Can someone please clarify for me why Mr. Satria mentioned "Jakarta *and* Aceh" in his warning? Maybe Aceh is involved in a way that I haven't heard yet, but I would be disappointed if Mr. Satria is resorting to the potent and ideologically-charged steretype that Aceh is always and forever "fanatik."

 
At 8:37 PM, Blogger Forkam Mahabraya said...

we suport Mr. Naradha...
For Mrs. Yoyoh Yusroh remember the statement:
"May these flags will always remind you on what does this republic really stand for,"


or we...

 
At 2:23 AM, Blogger Agung Yudha said...

dear Jesse Grayman,
I believe what is meant by mr naradha is merely because Aceh is a special region which exercise Syariah Law in Indonesia. in which, accordingly, does not comply with the very idea of republic Indonesia.

 
At 7:16 AM, Blogger aquino said...

Akan lebih berguna jika blog ini seluruhnya ditulis dalam bahasa Indonesia

 
At 6:14 PM, Anonymous Cokorda Raka Angga Jananuraga said...

Tolong, team jiwamerdeka... diklarifikasi berita ini: http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=238498&kat_id=3

Apakah ini lagi2 disinformasi dari kubu mereka? Saya kutip sebagian
---
Ternyata tidak demikian. Balkan bahkan mungkin justru orang yang paling optimistis saat ini. Apalagi setelah dia mendatangi tiga tempat yang selama ini selalu disebut-sebut menolak tegas adanya RUU tersebut --yakni Bali, Batam, dan Papua. ''Tidak benar di ketiga daerah tersebut ada penolakan,'' kata Balkan kepada Republika, tegas.
---
Dia baru saja menerima pesan pendek (SMS) dari seorang tokoh Bali. ''Isinya minta maaf, karena saat pansus datang ke Bali, justru disambut demonstrasi,'' kata Balkan. Isi pesan pendek itu juga menyatakan bahwa mereka yang datang ke tempat pertemuan itu justru orang-orang dari luar Bali.
---
Sejumlah tokoh Bali dan DPD KNPI Bali bahkan menyerahkan usulan tertulis, yang intinya menyetujui RUU tersebut, seraya memberi sejumlah masukan.

''Jadi, aneh jika mereka yang dari luar itu justru meributkan,''" kata Balkan. Tokoh masyarakat yang lain, Jero Wijaya, menganggap penolakan sejumlah elemen masyarakat Bali terhadap RUU itu tidak lebih dari ikut-ikutan.
---

 
At 6:46 PM, Anonymous Anonymous said...

Republika, Pikiran Rakyat, dll adalah koran muslim yang selalu menulis cerita dari satu sudut pandang. Ini berhubungan dengan mindset para wartawannya.
Sedangkan masalah Mr Balkan ini, beberapa kali tampil di MetroTV, tidak perlu rocket scientist untuk mengetahui dia selalu men-distort informasi yang bertentangan dengan misinya. Beberapa hari yang lalu dia vs Wayan someone di Metro selalu berputar-putar dalam menjawab pertanyaan. Untuk daerah Bali, Papua, Batam kata Mr Balkan, nanti akan ada aturan khusus dan yang mengatur (kekhususannya) dan nanti akan ada banyak pihak yg berpartisipasi (utk mengatur). Ketika moderator tanya siapa saja pihak itu? dan Mr Wayan bilang kalau ada banyak pihak mengatur akan makin kacau, Mr Balkan kembali bertele-tele dan berputar-putar omongannya. Satu lagi, dia selalu menjawab pertanyaan atau argumen orang lain dengan senyum yang merendahkan (condescending).
Kemaren di Metro ada lagi satu namanya lupa (kita sebut saja Mr X) dg satu ibu dari Bali gitu?, dan moderator Desi Anwar, RUU APP ini sudah berbasis kajian yang mendalam dan komprehensif meliputi 1. kajian filosofis (lalu dia keluarkan ayat quran atau hadist dan dia bilang itu filosofi para kyai), 2. kajian akademis, 3. UU lain yang berhub (katanya KUHAP), 4. kajian dari pengalaman masyarakat yang ada di Indonesia.
Waktu ditanya Desi bgm dg Bali yg punya budaya dan kehidupan tradisional sendiri dia jawab "kalau anda cermati pasal 34 dst itu ada pengecualian utk Bali, Papua, Batam". Lalu bilang pengecualiannya ada aturannya sendiri. Wkt ditanya "nanti ada banyak kecuali di UU nya dong" dia putar-putar lagi "ini bukan masalah kecualinya, dst".
Wah, bete berat dah dengerin orang-orang ini ngomong...

 
At 8:36 PM, Anonymous Anonymous said...

Memang kalau diterapkan UU APP itu harus banyak kecualinya. Wah, mubazir............................

 
At 10:34 PM, Blogger bagusbali said...

Itu sudah sedari dulu....harian Republika itu sering membuat propaganda agar kita saling mencurigai satu sama lain.
Dalam hal ini saya himbau....bagi masysrakat bali yang belum tahu benar duduk masalah dan keadaan bali saya harap jangan komentar Di TV. Sebab masalh UPP ini adalah masalah pencaplokan hak asasi yang dilakukan oleh segelintir orang guna mengarahkan bangsa ini menjadi satu paham yang mereka anut.
Tapi kami orang-orang bali tak akan terima. Coba kita tenggok sejarah....dari manakah negar ini terbentuk, budaya mana yang dulu berkembang di negara ini...bkankah budaya hindu,.....coba pikir masak-masak!!!!!
Wahai bapak-bapak yang intelek.....jangan biarkan bali ini tenggelam, kita tidak ingin mewariskan budaya yang bukan milik kita kepada anak cucu kita ?????

 
At 10:43 PM, Anonymous Anonymous said...

Coba baca di detiknews pernyataan
MMI:Jika terus menolak , jadikan Bali Daerah khusus Pornografi.
Apapula itu................

 
At 11:34 PM, Anonymous Anonymous said...

Ketika tanah Negeri ini masih dibawah cengkeraman tangan penjajah
Begitu banyak nenek moyang kami yang telah berjuang dengan gigih dan sebagian gugur untuk melepaskannya dari belenggu penjajahan (lebih banyak jumlahnya dari Bangsa kalian)

Ketika tanah Negeri ini telah bebas dari nista penjajah dengan mengumandangkan kata “MERDEKA”
Dengan lapang dada nenek moyang kami menerima tanah Negeri ini dijadikan sebuah Negara yang diberi nama Indonesia (bukan Negara Islam)

Ketiga Negara ini telah bulat berdaulat
Dengan besar hati nenek moyang kami menerima undang-undang dan hukum yang diberlakukan berasal dari warisan bekas bangsa para penjajah hanya dengan satu alasan, demi Bangsa kalian !

Ketika budaya kaum kapitalis merajalela merambah negeri ini
Nenek moyang kami masih bisa tersenyum walau sejuta kesedihan melanda kalbunya dengan berkata semoga semua membawa kemajuan untuk Bangsa ini

Ketika masalah HAM dan Demokrasi kalian kumandangkan dengan penuh semangat
Nenek moyang kami hanya dapat bergumam, demi Bangsa ini

Untuk apa semua yang telah mereka korbankan, karena kesadaran bahwa bangsa ini terdiri dari banyak suku dan Agama yang dianutnya.
Itulah Toleransi yang telah dibangun oleh nenek moyang kami orang-orang Islam, untuk kalian yang telah kami akui sebagai saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air ! Tidak akan ada yang sanggup mengukur besarnya pengorbanan nenek moyang kami untuk Bangsa ini ! Jangan kalian ingkari itu !

Kini di saat kami membutuhkan payung pelindung bagi anak-anak keturunan dan generasi penerus kami, kalian dengan begitu congkak menolaknya seakan hilang hati nurani yang bersemayan di dalam diri kalian - kalian katakan masalah yang paling urgen dan mendesak untuk ditindaklanjuti adalah masalah korupsi, padahal masalah itu adalah buah dari hukum dan aturan warisan penjajah yang kalian banggakan - bukan hukum dan aturan dari Agama kami - kalian telah lupa atas apa yang dikorbankan oleh nenek moyang kami !

Kini di saat kami ingin membangun kembali Bangsa ini yang sudah jatuh terpuruk tanpa moral yang dapat di banggakan, kalian dengan berbondong-bondong datang untuk menolaknya – kalian katakan bahwa bangsa kalian harus merdeka dari kaum hipokrit – begitukah ? dimana moral dan watak toleransi kalian ?

Kini disaat kami menuntut tegaknya Demokrasi yang kalian banggakan untuk diterapkan, kalian malah mengingkarinya hanya karena memikirkan isi perut kalian sendiri – bukankah justru kalian yang kini menjadi Bangsa yang HIPOKRIT ? Kini ketika kami menuntuk HAM milik kami, kalian katakan itu bertentangan dengan HAM – bagaimana cara berpikir kalian ?

Model bangsa apakah kalian ini ?
Masih pantaskah kalian disebut sebagai bangsa yang sangat toleran ?
Masih benarkah kalian disebut sebagai Bangsa yang berpegang teguh pada Budaya dan Aturan ?
Masih pantaskah kalian disebut sebagai bagian dari Bangsa ini ?
Masih pantaskah ?

 
At 11:57 PM, Anonymous Anonymous said...

JIKA DEMOKRASI INGIN DITEGAKKAN DINEGERI INI, SEGERA SYAHKAN RUU APP TERSEBUT ! MAYORITAS WARGA NEGARA INI MENUNTUT UNTUK SEGERA DISYAHKAN RUU APP ITU, UU APP MERUPAKAN TUNTUTAN HAM MAYORITAS WARGA NEGARA INI !

BAGI YANG MENOLAK, JANGAN INGKARI MASALAH DEMOKRASI DAN HAM YANG KALIAN SEBUT-SEBUT SEBAGAI KEBANGGAAN BAHWA ITUPUN HAK MAYORITAS WARGA NEGARA INI !

INGAT ! ORANG BALI BUKAN HANYA YANG ADA DI PULAU BALI, YANG DILUAR PULAU BALIPUN HINGGA KINI SELALU DILINDUNGI HAM-NYA OLEH PENDUDUK ASLI SETEMPAT !

KAMI TAHU, KALIAN ITU SEBENARNYA PARA PECUNDANG YANG BERLINDUNG DIBALIK NAMA MASYARAKAT TRADISIONAL BALI YANG SANGAT TO-LE-RAN !

KALIAN YANG BERTERIAK MENOLAK RUU APP SEBENARNYA PARA OPPORTUNIST SUARA KALIAN BUKAN DEMI ORANG BALI, TAPI DEMI INVESTOR YANG TELAH MENANAMKAN DANANYA PADA BISNIS KALIAN !

PERNAHKAH KALIAN MENDENGAR KELUHAN WARGA MASYARAKAT TRADISIONAL BALI YANG SULIT MELAKUKAN TRADISI MELASPAS (PADA UPACARA MELASTI, MAAF KALAU SALAH) KARENA SUDAH SUSAH MENCARI AKSES KETEPI PANTAI, SEPANJANG PANTAI KUTA-JIMBARAN MELINGKAR SAMPAI SANUR SUDAH DIPAGAR HOTEL DAN TEMPAT HIBURAN !

JANGAN KALIAN TUTUPI TRADISI DAN BUDAYA TOLERAN ORANG BALI KARENA BISNIS KALIAN !

 
At 12:43 PM, Anonymous Anonymous said...

Betool!! Serahkan saja bisnis ini ke orang Irian Jaya..--> stupid answer for a stupid comment.

 
At 5:07 PM, Anonymous Anonymous said...

Kalau yang setuju UPP....pleale don't leave at bali.....kalu melihat bali jangan dilihat dari satu sudut pandang....kalau belum tahu agama dan adat bali please stop your mouth....

 
At 9:16 PM, Anonymous Karta Kosasih said...

Aduh, udah lah, jangan dipikirin orang2 kaya gitu mah *miringin jari telunjuk di jidat* orang gila...
manusia boleh donk bersifat egois sesekali?? lu tau siapa investor2 Indo? orang2 barat yang notabene menghalalkan pornografi.. mereka lebih kaya dari Indonesia maaaan, RUU APP itu tidak penting, yang penting itu RUU pemberantasan korupsi (kaya di Cina, koruptor ditembak mati) ama bagaimana caranya turunin BBM ama Dollar... RUU itu bisa nungguuuuuuuuuuu.... kalo emang lu ngak tahan liat cewe seksi, jangan salahin cewenya.. salahin animal instinct eluuuu...

 
At 11:57 PM, Blogger bagusbali said...

he...he...he....seperti istilah " jangan salahkan ibu mengandung melainkan salah bapak buka sarung.....".
Buka mata broo.....jangan ditutupi ama kemunafikan lho semata. Jadi orang yang fleksibel dong....kalu pingin merubah nasib dan tidak ingin jadi pemulung terus harus mampu menerima globalisasi. Secara logika kita lihat orang yang mampu menerima perubahan lebih baik nasibnya ketimbang orang yang masih terpengaruh doktrin kemunafikan.
Pikirkan baik-baik UPP penuh dengan unsur kemunafikan......

 
At 2:32 AM, Anonymous Karta Kosasih said...

Betul sekali, setuju banget gua ama bagusbali.. RUU APP itu sangat tidak cocok dengan perkembangan jaman, dunia yang udah jaman teknologi. Udah abad 21 maaaaaaan.. A MIND IS LIKE A PARACHUTE, IT'S USELESS UNLESS IT'S OPEN.. so open up your goddamn mind and get out from your comfy chairs and look around you, banyak orang miskin maaaan di Indonesia, yang tinggal pinggir kali, yang sikat gigi pake air sungai yang dikencingin ama dibokerin ama orang laen. Apa perlu RUU APP itu harus disahkan sekarang juga?? Kalopun RUU APP itu akhirnya disahkan (amit amit dah), UU APP akan jadi ketinggalan jaman dan mau ngak mau nanti harus dihilangkan juga. Moreover, liat aja sekarang, RUU APP belon disahkan aja... udah membagi bangsa Indonesia menjadi dua seperti ini, seharusnya kita saudara sebangsa semua, kenapa jadi seperti ini? RUU APP belon disahkan aja udah berdampak negatif. Bagaimana kalo disahkan? Bisa perang saudara man. Rusuh bakalan ada dimana-mana. Make love, not war. Tolong jangan salah kaprah "make love" dengan bersenggama. It's a totally different thing... Itulah Indonesia, yang menyenggol porno sedikit, langsung dikonotasikan. Betulin dulu tuh cara berpikir...

 
At 7:30 AM, Anonymous Siti Zulaika said...

Btw,
Saya mau bertanya-tanya, today i had a daydream... Dari mana ya kita semua (yang pro dan kontra RUU APP) sama-sama setuju kalau 80% penduduk Indonesia adalah muslim????
Dari SD kita selalu dikasih tahu begitu? Dari sensus ya? Siapa yang melakukan sensus???
Bukan di Jawa & Suamtera aja? Dan Aceh dan sekitarnya kan udah dikurangi 200-300 ribuan muslim tuh...
Udah gitu, banyak orang-orang desa (setahuku yang suka 'jalan-jalan' ke desa di Jawa & Sumatera) Islamnya bukan islam kayak PKS or MMI or FPI gitu... Tapi 80% (ini angka dari saya, catet!) islam KTP yang masih kasih sesajen tiap malem jumlat kliwon...
Terus, kalau (ini 'kalau') memang bener umat Islam 80%, huahhh, itu membuktikan satu hal saja... "susah ya memanage umat segitu banyak"
jadi, ini intermezzo diantara centang perentang RUU APP ini... Maaf menggangggu...

 
At 4:21 AM, Blogger Buddhism said...

menurut saya semua orang haruslah melihat diri sendiri, jangan menilai orang dari satu sudut pandang atau satu paham, kebudayaan, agama, dll. yang penting menurut saya kita harus memperbaiki pikiran negatif kita sendiri dalam memberi penilaian, jangan semata-mata itu karena perintah Tuhan atau perintah siapa, atau laen2nya.ingatlah bahwa kita adalah negara demokrasi dan negara Republik dimana kita mempunyai banyak sekali kebudayaan dan suku, serta agama, jangan karena kita memihak pada salah satu agama akhirnya negara kita menjadi terpecah belah. Hati-hatilah dengan orang yang mengatasnamakan agama, tetapi sebenarnya dia mempunyai niat yang jelek dan niat yang tidak terpuji, yang hanya mau mengekang kebebasan berekspresi kita.Selain itu yang perlu diingat juga kita berada di suatu komunitas dunia, dimana segala informasi dapat kita dapatkan dengan cepat dan terbuka serta transparan tanpa ditutupi,jadi kalau mau ngesahkan undang-undang harus dilihat dulu kebudayaan dan keanekaragaman yang ada di negara tersebut. toh negara kita bukan negara Islam tapi negara REPUBLIK INDONESIA.Jadi kalau ada orang yang setuju dengan disahkannya RUU APP maka orang itu adalah orang terbodoh di dunia!!!! Maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan.

 

Post a Comment

<< Home