Monday, February 27, 2006

1 gambar 1000 penolakan

Exhilarating visual tour-de-force against a ludicrous law

3 Comments:

At 5:13 PM, Anonymous Anonymous said...

MEDIA CABUL & UU GONAD
Catatan singkat Ikranagara


Benarkah media cabul itu sebagai penyebab kebejatan moral, sampai-
sampai sekarang ini anggota DPR sedang sibuk menyusun UU yang
menyangkut Gonad?

Masalah syahwat ini pada dasarnya adalah biologis saja. Sejak
teenager mendapat kiriman baru sel-sel otaknya, dan juga dewasanya
kelenjar Hypothalamus dan Petuitary di sela-sela benaknya yang berwarna kelabu di dalam batok kepalanya itu, maka berubahlah pandangannya tentang makhluk satu sepesies (baca: manusia!) yang tidak sama jenis kelaminnya dengan dirinya sendiri, karena kedua kelenjar itulah yang bersama Gonad (=alat kelamin) mulai melakukan dialog segitiga menyusun simpony yang nikmatnya aduhai berjudul "Sorga Dunia" itu. Atau, pandangannya itu berobah justeru terhadap yang sekelamin dengannya. Tergantung apakah dia itu tergolong hetero sexual atau homo sexual atau pun bi-sexual, yang semuanya ini juga biologis kodratnya.

Kegiatan sexual pertama yang dikenalnya akibat kinerja Hypothalamus, Petitary dan Gonad adalah dalam bentuk onani, dan ini tidak ada yang melarangnya, meskipun hal ini dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi
karena adanya rasa malu, bukan? Tidak jarang onani itu dilakukan
dengan bantuan artifisial berupa bacaan cabul atau pun gambar-gambar
cabul, bukan? Itulah kegiatan sexual pertama yang universal
sifatnya, lintas bangsa, agama, negara, status sosial atau apa pun.

Keinginan melakukan yang lebih kongkrit dalam melaksanakan dorongan sexual ini makin bulan makin tinggi. Tapi tentu saja rambu-rambu telah dipasang di masyarakat mana pun di dunia ini, dengan alasan "kita ini manusia dan bukan binatang." (Ce-ile, genitnya ente ah!) Ya, binatang tidak kenal rambu-rambu ini, karenanya hasil dialog segitiga antara Hypothalamus, Petuitary dan Gonad di kalanmgan jenis binatang bisa dilangsungkan dengan lancar di alam terbuka. Di alam binatang tidak ada represi berupa tabu-tabu seperti yang kita kenal dalam urusan sexual ini, dan juga tidak dibutuhkan media cabul sebagai teman pelengkap yang artifisial.

Jadi, sebenarnya media cabul itu bukanlah sebagai penyebab adanya
dorongan sexual bagi anak-anak remaja (baca: manusia!) itu, tetapi
sekedar sebagai konpensasi karena adanya tabu untuk melakukan
hubungan sexual ini secara langsung, apadahl nafsu sudah sampai ke leher dari bulan ke bulan! Nah, yang tidak mampu menahan lagi, akhirnya mencari tempat yang tidak tabu untuk melakukan hubungan sexual langsung, tidak artifisial, misalnya di tempat pelacuran, atau dengan pacar atau sekedar teman kencan yang bersedia melakukannya di kamar tertutup atau di tempat duduk belakang di mobil yang di parkir di sela-sela semak belukar di taman di pinggiran kota pada malam hari. Dan ada juga yang melakukan tindak kekerasan untuk melampiaskan "beban" dari bulan ke bulan itu.

Cobalah bayangkan, jika tabu-tabu itu semua dicabut, maka bagi
yang sudah siap melakukan hubungan sexual, yang membutuhkannya, misalnya anak-anak remaja
itu, maka mereka ini akan melakukannya tanpa ditemani oleh media cabul. "Ah, buat apa itu media cabul, kan yang aselinya bisa
didapat! Enggak butuh deh!"

Jadi, media cabul dan pelacuran itu lahir karena adanya tabu-tabu
yang bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk biologis!

Yang perlu diatur nilai- nilai "moralitas"-nya barangkali adalah yang menyangkut
aturan main di kalangan remaja itu, sedemkian rupa, sehingga mereka bisa tetap menjalankan kodratnya sebagai makhluk biologis secara baik-baik dan wajar, juga bertanggung-jawab. Nah urusan "tanggung-jawab" ini memang rumit jadinya, tetapi bagaimana pun kondisi baru itu jauh lebih sehat dan manusiawi ketimbang "budaya main tabu" yang tidak pada tempatnya tetap diberlakukan sampai sekarang ini. Jalan keluarnya? Kawin muda usia, misalnya? Terserahlah soal bagaimananya! Itu bisa dirundingkan dengan kepala dingin dan membuang jauh-jauh dogma yang tidak sehat dan tidak manusiawi dan tidak biologis itu. Pokoknya: jangan lagi ada represi terhadap kegiatan sexual manusia, karena hal itu bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk biologis.


Ikra.-
======

 
At 6:14 PM, Anonymous Anonymous said...

JAdi mereka yang memikirkan untuk mensahkan RUU ini menilai masyarakat di Indonesia kayak binatang dong sehingga perlu dibuatkan peraturan untuk urusan biologis sehingga nggak ngelakuinnya di tempat umum. Tapi apa pernah mereka liat orang/manusia yang sengaja buka baju di tempat umum ?

 
At 9:03 PM, Blogger Ni Made said...

Veils for Rent!
As a young Balinese woman I want to express my deep concern about the so-called “Pornography Bill”, which – if ever passed – would jeopardize Bali’s main income source, namely tourism!
All over Indonesia (real) pornography (video blue) is sold under the table, but Jakarta’s hypocrite legislators are going to criminalize tourists showing their hips, navel or thighs. Up to ten (!) years imprisonment and fines up to Rp 1 billion will certainly attract millions of tourists to visit Indonesia (not only Bali) as an “open society”.
Suggestion for those who are responsible for this “idiotically ludicrous document” (quotation columnist Aridus): On every airport, next to the Visa on Arrival Desk set up a counter where tourists can rent veils and ankle-long swimming suits.
Next elections are coming for sure. Balinese will not vote for parties who support this ridiculous law!

 

Post a Comment

<< Home